Pages

Jumat, 28 September 2012

CERPEN


Aturan Ayah
Terinspirasi dari kehidupan: Ratna Eka Wati

“Tungguin aku ya, aku ngambil motor dulu”teriak ratna pada teman-temannya yang sudah menunggu. Siang itu Ratna, Rahmat, dan Fella akan belajar kelompok di rumah Hidayah. Hal ini sering mereka lakukan menjelang ada ulangan tengah/akhir semester. Jam menunjukkan pukul sebelas siang saat mereka tiba di rumah Hidayah. Segera mereka bergegas membuka buku dan mengeluarkan alat tulis.
Ujian besok adalah sejarah dan agama, jadi banyak hafalan yang harus mereka ingat. “Tritura itu apa ya?” ucap Rahmat  yang memulai percakapan. Dengan sigap Fella menjawab tiga tuntutan rakyat. Diskusi ini sangat hidup karena terkadang disertai dengan guyonan dari Fella dan juga Rahmat.
“Nih, nih, jangan terlalu serius,dimakan ya, seadanya aja nih, hehe”keluar pipit dari dapur sambil membawa bebrapa cemilan dan juga minuman segar. Cemilan dan minuman yang baru saja disuguhkan langsung diserbu oleh tiga orang itu kecuali Ratna.
Semenjak tiba di rumah Hidayah yang biasa dipanggil Pipit itu, Ratna terus memegangi handphone biru nya sampai lupa bahwa ia sekarang sedang belajar kelompok.
“Ngapain sih na, HP terus dari tadi nih minum dulu”pinta Pipit pada Ratna. Tak tau apa yang sedang di pikirkan oleh Ratna tapi ia dari tadi hanya termenung bahkan ajakan Pipit hanya dijawabnya dengan sebuah senyuman kecil. Tak ada yang tau bahwa ia belum meminta ijin pada orangtuanya. Ia ragu meminta ijin karena ayahnya itu sangat ketat dalam jam pulang sekolah, ditambah lagi dalam suasana ujian seperti ini, harusnya ia segera pulang.
Pukul setengah satu siang, hati Ratna bertambah gundah, ia semakin bingung apa yang harus dikatakannya nanti pada orangtuanya apalagi sang ayah. Ayah Ratna memang sangat disiplin namun kedisiplinannya itu yang terkadang membuat Ratna semakin merasa terkekang. Banyak aturan yang harus ia laksanakan sebagai anak perempuan tertua. Maklum dikeluarganya tidak anak laki-laki sehingga membuat ayahnya semakin protektif.
Mencoba menjernihkan pikirannya, Ratna mengambil jatah minuman yang sudah disediakan Hidayah. “Kamu gak papa kan na?” khawatir Fella pada temannya itu.
“Sebenarnya aku belum minta ijin pada Ayahku, aku takut nanti ayah marah karena aku pulang terlambat’’kata Ratna dengan wajah yang lusuh. “ Ayahku selalu saja mencoba mengaturku, padahal aku ini kan sudah SMA, aku tau kok mana yang benar dan mana yang salah. Apa perlu anak SMA seperti aku ini ditelfon berkali-kali setiap aku pergi. Ayahku gak pernah bisa percaya sma anaknya, dia Cuma memikirkan apa yang kelihatan pantas dan tidak pantas dimatanya. Aku bingung.”
Sejenak suasana hening, Fella, Hidayah, dan Rahmat saling bertatapan mereka seperti tersambar petir disiang hari yang terik. Tatapan mereka mengisyaratkan bahwa mereka ikut sedih atas apa yang dialami Ratna, tetapi mereka juga tidak tau harus bagaimana karena masalah ini sepertinya sudah menyangkut perasaan anak dan ayah.
Tiba-tiba saja keheningan itu dipecah oleh suara HP Ratna yang berdering terus menerus. Namun setiap kali HP nya bunyi Ratna selalu mematikan panggilan itu. Semua yang diruangan itu seakan tau siapa yang menelepon.
“Ayahmu ya na?tanya Rahmat. Dengan gaya bicaranya yang menirukan Mario Teguh, ia mulai menasehati Ratna, “ Diangkat saja na, jangan takut, kamu kan pulan terlambat karena belajar kelompok bukan untuk hal-hal yang aneh-anehkan. Atau kamu mau pulang sekarang saja biar nanti Fella aku yang antarkan pulang. Kamu gak usah sedih gitu. Kita semua ngerti kok apa yang kamu rasakan.”
“Iya na, apa kamu mau kita bicara dengan ayahmu supaya tidak salah paham lagi. Gimana ?  Dan ayahmu itu mungkin hanya khawatir sama kamu, itu tandanya ayahmu peduli dan sayang sama kamu. Kamu gak boleh berpikiran negatif dulu tentang ayah mu ya na.”sahut Fella.
Belum sempat Ratna menanggapi teman-temannya dengan sedikit terkejut ia  mengangkat telepon yang tiba-tiba saja berbunyi. Kali ini diberanikannya untuk berbicara dengan ayahnya karena ia tahu kalau sampai telepon ini tidak diangkatnya maka akan membuat ayahnya semakin marah dan menjadi-jadi.
Tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya. Ratna menjawab telepon ayahnya itu dengan suara parau dan terbata-bata. Batinnya seperti teriris mendengar kata-kata sang ayah. Kalu di telepon saja sudah sebegini marahnya bagaimana kalau nanti di rumah. Terbayang-bayang wajah sang ayah yang sedang dikuasai oleh amarah.
“iya Ratna pulang sekarang kok yah. Lagi pula Ratna hanya belajar kelompok sama Rahmat dan Fella di rumah Pipit.” Kata Ratna dengan air mata yang berlinang.
Ia langsung berpamitan pada ketiga temannya. Ia juga meminta maaf karena belajar kelompok hari ini agak kacau karena dia. Tak berapa lama ia membereskan segala peralatannya, Ratna langsung tancap gas dengan supra x miliknya. Motornya ia pacu dengan kecepatan tinggi, terpikir olehnya apa yang akan ia sampaikan pada ayahnya nanti setiba dirumah.
Sang ayah sudah menggu sedari tadi rupanya. Ia menyuruh Ratna lekas masuk ke dalam rumah. Tatapan matanya yang dingin membuat Ratna hanya menjawab perintah itu dengan anggukan rendah.
“Dari mana kamu? Kamu tau tidak ini jam berapa? Harusnya kan kamu sampai dari tadi jam setengah sebelas. Tapi sekarang sudah jam 3 kamu baru sampai rumah. Kamu kan besok masih ada UTS, apa kamu tu nggak mikir! Lihat saja adikmu itu,dia tidak pernah pulang terlambat. Dan selalu patuh pada ayah dan ibu, tapi kamu mentang-mentang sudah besar jadi ngelunjak.”bentak ayahnya.
Harapan Ratna pada sang Ibu supaya dapat membelanya ternyata sia-sia belaka. Walaupun ibunya tidak berkata sepatah kata pun namun tatapan matanya seakan mengiyakan segala perkataan sang ayah yang sangat menyakitkan hatinya itu. Sang ibu juga seakan berpikir bahwa dirinya mulai tumbuh menjadi anak yang tak tau aturan, padahal ia tak pernah melakukan apapun yang kelewat batas. Hanya sang adik terus yang dibangga-banggakan oleh ayah dan ibu membuat rasa kecewa Ratna semakin besar saja.
Dengan perasaan yang sudah tidak bisa terbendung lagi Ratna berbicara dengan lantangnya, “Aku ini sudah besar pak, aku bisa berpikir kok mana yang salah dan mana yang baik. Adik itu kan masih SMP pantaslah kalau dia masih belum sibuk seprti aku. Sepulang sekolah aku langsung belajar kelompok karena besok mata pelajaran UTS yang diujikan aku belum paham betul. Ayah  terlalu kaku dengan aturan-aturan yang ayah buat sendiri.”
Semua ucapan Ratna itu hanya terdengar seperti ocehan anak SD yang menghindar dari kesalahannya. Sang ayah tetap teguh pada pendiriannya, Ia bahkan memberikan hukuman untuk tidak memakai motor lagi ke sekolah.
            Mendengar ucapan sang ayah yang menurut Ratna mengecewakan, Ia masuk ke dalam kamar sembari berlari dan menutup pintu kamar dengan bantingan yang keras.
Begitu sakit rasanya punya orangtua yang punya aturan-aturan berlebihan. Aturan itu memang penting tapi kalu menerapkannya salah itu justru malah jadi petaka. Seperti ayahnya yang sudah terlalu sayang pada aturan-aturan itu. Apa tidak ada kebebasan untuk anaknya yang sudah dewasa ini? Apa sebegitu parahkan tindakannya ini sehingga membuat sang ayah tidak mempercayainya lagi. Begitu susahkan untuk memperlakukan anaknya dengan aturan yang sesuai.
Langit-langit rumah menjadi awang-awang nya saat ini. Kepala yang mulai pusing memikirkan sang ayah dengan aturannya yang seperti adik kakak dan juga rasa bersalah pada teman-teman karena telah mengacaukan belajar kelompok hari ini. Terlebih lagi Fella, ia sudah berjanji untuk mengantarkan Fella pulang namun terpaksa harus digantikan oleh Rahmat.
“Ah, prinsip ayah pada aturan-aturannya itu sungguh terlalu. Apa dulu nenek dan kakek memperlakukan ayah seperti ini? Hingga sekarang ayah menrapkannya pada ku. Orinsip masing-masing orang itu memang berbeda. Tapi apa separah ini perbedaan ayah dan anak.” Pikir Ratna yang merenung menata perasaanya lagi.
Waktu menunjukkan pukul empat, suara kicauan burung kutilang di depan rumah menemani keheningan sore itu. Entah apa yang sedang dilakukan sang ayah dan yang lain, tak maulah Ratna terus meratapi nasib jeleknya ini. Kelehan batin dan jiwa hari ini sudah cukup untuk mengantarkannya tidur terlelap sampai adzan magrib berkumandang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar